Saturday, 7 June 2014

Budaya Bangka, Perang Ketupat Tempilang

Image result for perang ketupat bangka
Perang Ketupat (Google)
Ada yang menarik di Bangka Belitung yaitu perang ketupat. Perang ketupat merupakan peninggakan budaya masyarakat tempilang, Bangka Barat. Menurut sumber pertama kali perang ketupat terjadi pada tahun 1802 oleh Akek Sak di depan benteng tempilang. Perang ketupat ini merupakan acara adat untuk mengenang jasa para pahlawan dalam perang lanon.

Ritual di awali pada malam sebelum perang ketupat dilakukan. Dipimpin oleh 3 dukun Kecamatan Tempilang mereka memberikan sesaji sebagai sesembahan dan makanan makhluk halus diatas rumah-rumahan (penimbong) yang terbuat dari kayu menangor. 

Secara bergantian para dukun tadi akan memanggil makhluk halus yang menghuni Gunung Mares. Masyarakat setempat mempercayai bahwa makhluk halus penghuni Gunung Mares memiliki tabiat yang baik dan menjadi penjaga desa Tempilang dari roh-roh jahat. Oleh karenanya pemberian sesajen sebagai bentuk penghormatan sekaligus balas jasa masyarakat Tempilang.

Pagi hari, ritual perang ketupat didahuli oleh tarian pembuka yakni tarian serimbang. Diiringi suara gendang dari enam penabuh dan alunan dawai. Para penari menarikan tarian yang menggambarkan perang terhadap makhluk-makhluk halus yang jahat dan sering mengganggu kehidupan masyarakat. 

Setelah selesai tari serimbang, dukun darat dan dukun laut bersatu untuk mengucapkan mantra didepan wadah yang telah berisi ketupat. Beberapa saat setelah melafalkan mantra, dukun darat pun akan tak sadarkan diri. Peristiwa tersebut dipercaya merupakan bentuk komunikasi dukun darat dengan arwah para leluhur. 

Setelah siuman biasanya dukun darat akan menyampaikan beberapa hal yang menjadi pantangan warga Tempilang. Setelah ritual selesai, kedua dukun tersebut akan menyiapkan ketupat diatas sehelai tikar pandan. Sepuluh ketupat akan diletakan menghadap ke sisi darat dan sepuluh lainnya menghadap sisi laut. Di sisi lain 20 pemuda yang menjadi peserta perang saling berhadapan membuat dua kubu. Masing-masing menghadap ke laut dan ke darat. Sebelum perang dimulai, dukun terlebih dahulu akan memberikan contoh. 

Secara umum, kedua kubu tidak boleh melemparkan ketupat ke arah kepala. Dengan aba-aba peluit dari dukun laut, perang ketupat pun dimulai. Kedua kubu pun akan saling melemparkan ketupat ke arah lawan. 

Keadaan kacau dan meriah pun akan mewarnai perang ketupat . Perang akan berakhir ketika dukun laut meniup peluit. Para peserta pun mengakhiri perang ketupat dengan saling berjabat tangan sebagai tanda tidak ada dendam diantara mereka.
Share:

Friday, 16 May 2014

Gua Misterius Ditemukan di Desa Juru Seberang, Belitung

Tanjungpandan
Suatu gua misterius ditemukan di Desa Juru Seberang, Tanjungpandan, Kabupaten Belitung, Provinsi Bangka Belitung. Penemuan gua misterius tersebut, ikut menarik perhatian Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Kabupaten Belitung.

Keberadaan gua dinilai akan dapat menjadi sebuah objek wisata baru bagi Kota Tanjungpandan. Kepala Disparekraf Kabupaten Belitung Jasagung Hariyadi mengatakan, dirinya baru mendengar kabar mengenai keberadaan gua tersebut dari media massa. 

Meski Ia sendiri juga tak menampik ikut merasa penasaran dengan perkembangan penyelidikan terhadap gua tersebut.

"Kalau memang di gua itu ditemukan nilai-nilai sejarah atau legenda, itu nanti bisa dijadikan salah satu objek wisata baru, untuk Kota Tanjungpandan," kata Jasagung kepada Pos Belitung, Selasa (13/5).

Ia menjelaskan, pihaknya memang sudah mengarahkan perhatian pada Desa Juru Seberang untuk pengembangan sekor pariwisata. Hanya, perhatian itu lebih fokus pada rencana pengembangan Hutan Kemasyarakatan Gusong Bugis. "Ke depan Hutan Gusong Bugis akan dikembangkan, dan gua itu bisa jadi satu paket nanti, wisata ke Gusong Bugis sekaligus ke gua itu," kata Jasagung. 

(Sumber: Pos Belitung)
Share:

Thursday, 15 May 2014

Foto-foto Sejarah Kota Mentok dan Bung Karno

Sejarah kota Mentok, Bangka Barat memang sangat lekat sekali dengan jejak-jejak kemerdekaan Indonesia. Hal itu dikarenakan, kota Mentok pernah menjadi tempat pengasingan Bung Karno, Bung Hatta dan pejabat negara lainnya pada masa kemerdekaan. Ini dia ada beberapa foto-foto sejarah tentang saksi bahwa kota Mentok pernah didiami sang proklamator.

Kota Mentok tahun 1900

Kota Mentok tahun 1950

Hotel Menumbing tahun 1929

Bung Karno dan Bung Hatta di Menumbing, Mentok

Bung Hatta dan teman-teman di Menumbing, Mentok

Bung Hatta dan teman-teman di Menumbing, Mentok

Presiden RI I Ir. Soekarno di ruang belajarnya di Menumbing, Mentok

H. Agus Salim, Moh. Roem, Ir. Soekarno di Menumbing, Mentok

Bung Karno bersama masyarakat Bangka di Pantai Tanjung Kelian

Bung Karno dan masyarakat Bangka jalan-jalan di lepas pantai

Bung Karno dan masyarakat Bangka di Pantai Tanjung Kelian, Mentok
Bung Karno dan anak-anak Bangka di Mentok



sumber : infobangka.com



Share:

Wednesday, 7 May 2014

Kamus Bahasa Bangka

Ini dia sedikit tentang kamus bahasa bangka, admin sendiri asli Pangkalpinang, jadi bahasanya juga adalah bahasa bangka Pangkalpinang.

Perlu diketahui, di Bangka sendiri, setiap daerah, seperti Bangka Barat, Bangka Selatan, Bangka tengah, Bangka Induk, Pangkalpinang, Sungailiat, Belinyu, dan lainnya, terdapat perbedaan, baik dari logat maupun bahasanya. Tetapi terdapat juga kesamaan.

Kalo masalah perbedaan bahasa di pulau Bangka Ada sejarahnya sendiri, Nanti Kita Bahas tentang sejarahnya. Ini dia bahasa sehari-hari yang sering digunakan.


------------Bahasa Bangka------------ ------------Bahasa Indonesia------------
A

Abang Kakak Laki-laki
Angai (diangai) Jemur, dikeringkan (dijemur)
Aok Iya
Aben (dak aben) Sama sekali (tidak sama sekali)
Aloi Minta perhatian
Agik Lagi
Adep (di adep) Depan (di depan)
Anter (dianter) Antar (dianterin)
Along (along tiduk) Lebih baik, Mending (Mending tidur)
Asuk Anjing
Ape Apa
Aik Air
Akew Pangilan cowok cina
Amoy Panggilan cewek cina
Akek Kakek (Lebih kasar)
Atok Kakek
B

Bantut Bosan
Basing Terserah
Bulak (Bebulak) Bohong (Berbohong)
Bilong Telinga
Budu Bodoh
Bagak Bodoh (lebih bodoh dari budu)
Budu Bagak Sangat bodoh sekali
Begagit Bercanda
Bai (Biase bai) Saja (Biasa saja)
Biak Biar
Bunting Hamil
Biting Jarum Peniti
Bujang Panggilan untuk laki-laki lajang
Burok Buruk, Jelek
Bulai Rambut pirang
Berus Rakus
Beruk Sejenis Kera
C

Camui Lobang galian bekas tambang timah
Cikar Cantik
Cemane Bagaimana
Cuman Cuma, Hanya
Cak-cak Pura-pura
D

Dayang Panggilan untuk perempuan lajang
Dak Tidak
Die Dia
Denglah Sudahlah
Due Dua
Dapuk Dapur
E

F

G

Gile
Gila
Galek Sering
Gati Sering
Ge (ku ge dak tau) Juga (saya juga tidak tahu)
Gi (gi ke pasar) Pergi (pergi ke pasar)
Gule-gule Permen
H

I

Ingen Suka, Seneng
Ingel-ingel Bercanda, tidak serius, main-main
J

Judes Cerewet, Bawel
K

Ka, ki, ke Kamu (pemakaian sesuai daerah)
ku Saya, Aku
Kelitet Ganjen
Kelitet kleber Sangat-sangat ganjen
Kajin Walau, biar
Kawa (dag kawa) Mau (tidak ada kemauan)
Keceker Ketahuan
Kanti (nganti) Teman (menemani)
Kuset Korek Api
Kenek Terserah
Kelak Nanti
Kerenyek Keinginan, Pengen, kepengen
Kite Kita
Kantet Robek
Kasut Sandal
Kek (Pegi kek ka) Dengan, Bersama (Pergi bersama kamu)
L

Langok, Lungoi Bosan, Jenuh
Lom Belum
Lah Sudah
Leteh Capek
Leket Lengket
Linot Ngantuk
M

Madeh Memberitahu
Mucak Memperbaiki
Mutek Memetik
Mengkual Mau muntah
Merani Marah
Mirah Merah
N

Nek Mau
Ngeruce Marah
Ngerapik Omong kosong
Ngambok Pamer
Nyusah Menyusahkan
Ninggal Meninggal, Meninggalkan
Nabat (dak nabat) Tau diri (Tidak Tau diri)
O

P

Pelicoh Curang
Pekak Masa
Pacak Bisa
Pucak Perbaiki
Pereh Menghampiri
Padah Bilang
Pacul Cangkul
Palak Kepala
Q

R

Renyek Ingin, Pengen
Retak (dag retak) Peduli (tidak peduli)
Rumeh Menunjukkan sifat orang yang ribet sendiri
S

Sikok Satu
Surang Sendiri
Saro Sulit, susah
Suah Pernah
Sude Sesudah, setelah
Semenggah (dak semenggah) Pantas (tidak pantas)
Seperadik Saudara
Sungot Mulut
Setal Kelereng
Suduk Sendok
Sekenek Seenaknya
Sekuayok Memposisikan diri seenak mungkin
T

Telok Telur
Tige Tiga
Tunang Pacar
Tumbur Tabrak
Tudung Topi
Tekeria Untung saja
Tekepor Kewalahan
Teburai Tercecer kemana-mana
Tingok Lihat
U

Urang Orang
Ukan Bukan
Utek Otak
Uto (Uto-uto) Mobil (Mobil-mobilan)
V

W

X

Y

Z


Sekian beberapa kata-kata dalam bahasa Bangka, Masih banyak lagi kata bahasa Bangka lainnya yang belum dituliskan di atas, karena masih banyak sekali. Mungkin jika ada teman-teman yang ingin menambahkan bisa berkomentar di bawah. Sekian dulu ya, Terimakasih sudah mengunjungn Website ini.
Share:

Monday, 5 May 2014

Batu Satam (Empedu Pasir) Asli Belitung

Tidak hanya menyandang julukan sebagai pulau penghasil Timah dan Lada Putih, Belitung juga di kenal sebagai pulau yang mempunyai kekayaan alam khas dan unik. Kekayaan alam tersebut berupa batu alam yang di namakan Satam. Wujud dari batu satam ini bewarna hitam, berukuran kecil dan sedang, serta Bentuk bulat dan lonjong. Selain itu pada batu terdapat seperti goretan yang terukir secara alami. Karena warna dari Batu Satam Hitam,terkadang juga batu ini di sebut dengan Batu Hitam atau Batu Legam (dalam bahasa Belitung.red). Selain itu juga, Menurut Penduduk Belitung, nama Satam berasal dari bahasa Tionghoa yang berarti pedu pasir. Sa = Pasir dan Tam = Empedu. Sehingga satam pun sering di katakan empedu pasir.

Batu Satam merupakan endapan batu meteor yang jatuh ke bumi setelah pecah/terbakar di langit jutaan tahun lalu. Biasanya Batu Satam banyak terdapat di lokasi Tambang Timah atau yang sering di sebut masyarakat Belitung dengan nama Kulong. Sehingga biasanya Batu Satam ini banyak di temukan oleh para pekerja Tambang Timah.

Sebagai pulau yang juga menghasilkan kekayaan alam berupa Batu Satam, Belitung menyimbolkan diri dengan Membuat tugu yang di atasnya di letakan Batu Satam buatan/tiruan. Tugu itu bisa berada tepat di pusat Kota Tanjungpandan

Keistimewaan
Berwarna hitam, berukuran kecil dan sedang, berbentuk bulat dan lonjong, serta memiliki goresan yang terukir secara alami merupakan keistimewaan dan ciri khas dari Batu Satam. Dengan keistimewaan tersebut membuat Batu Satam sering di jadikan batu perhiasan emas yang di pasang di kalung, giwang, bros cincin, tongkat komando.

Selain itu sebagian masyarakat Belitung berpendapat, bahwa Batu Hitam./Legam mempunyai kekuatan magic.Dengan di percaya mempunyai kekuatan magic membuat batu satam juga sering di gunakan sebagai jimat/penangkal ataupun sekedar simpanan.

Lokasi
Batu yang sering di katakan juga batu hitam ini memang hanya ada di lokasi tambang timah, jadi bagi anda masyarakat Belitung atupun para wisatwan yang sengaja ingin mendapatkan/mencari tampaknya agak sulit,mengingat batu satam biasanya hanya bisa di temukan oleh para penambang timah dan itupun hanya sebagian orang yang beruntung saja.

Tapi anda jangan takut, khususnya di kota Tanjungpandan sekarang ini sudah banyak tempat yang menjual batu alam itu. Misalnya pada toko oleh-oleh khas Belitung. Disana anda bisa melihat berbagai macam bentuk dari Batu Satam dan bisa memilih sesuai selera. Jadi jika anda berwisata ke pulau Belitung, jangan lewatkan untuk berkunjung ke toko oleh-oleh khas Belitung untuk membeli Batu Satam sebagai Cinderamata untuk keluarga yang sedang menunggu anda di rumah.

Jenis-Jenis Batu Satam
Jika di lihat dari bentuk dan ukuran Batu Satam ini sangatlah bervariasi. Ada yang berukuran kecil, sedang, dan juga ada yang besar. Dari bentuknya juga sangatlah unik dan bervariasi. Ada yang bulat , lonjong, serta ada yang bentuknya tidak beraturan, Jika di amati sekilas seperti Batu Satam yang rusak atau pecah. Biasanya jenis tersebut sering di sebut dengan Suiseki. Yang tak kala uniknya, pada batu satam ini terdapat seperti goretan yang seakan sengaja di ukir. Padahal goretan tersebut merupakan goretan yang terbentuk secara alami.

Batu Satam ini terbagi menjadi 2 jenis :
  • Batu Satam Asli : Jenis ini merupakan Batu Satam asli. Dalam arti bahwa batu tersebut masih dalam kondisi yang asli sebagaimana saat di temukan oleh para penambang timah.
  • Batu Satam Gosokan : Jenis ini merupakan batu satam yang di gosok, diubah bentuk dari bentuk sebelumnya. Untuk jenis ini, terkadang sebagian orang menyebutnya Batu Satam tidak asli. Mungkin hal tersebut di sebabkan karena bentuknya telah di ubah dari bentuk yang asli. Namun itu salah. Untuk jenis gosokan ini, tetaplah yang asli, karena walaupun sudah berubah bentuk, tetaplah sumber nya berasal dari batu satam yang asli.

Sumber: Jelajahbelitung.com
Share: